MSD Modern School of Design | Dari Pixel ke Puncak: Catatan Seru Studi Ekskursi ASRD MSD Yogyakarta ke Malang 2026

Dari Pixel ke Puncak: Catatan Seru Studi Ekskursi ASRD MSD Yogyakarta ke Malang 2026

Dari Pixel ke Puncak: Catatan Seru Studi Ekskursi ASRD MSD Yogyakarta ke Malang 2026

Menjelajahi Masa Depan Industri Kreatif, Kekayaan Sejarah, hingga Pesona Fajar di Bumi Arema

Siapa bilang belajar desain hanya bisa dilakukan di dalam studio yang dingin atau di depan layar monitor yang menyilaukan? Bagi mahasiswa DKVMSD, inspirasi sejati seringkali ditemukan saat kita melangkah keluar, menghirup udara baru, dan melihat langsung bagaimana industri bekerja di lapangan. Pada tanggal 4 hingga 6 Mei 2026, keluarga besar Mahasiswa Angkatan 2023 ASRDMSD Yogyakarta melakukan perjalanan epik bertajuk Studi Ekskursi menuju kota Malang.

Perjalanan ini bukan sekadar jalan-jalan biasa. Ini adalah sebuah misi untuk membedah ekosistem industri kreatif yang sedang bertransformasi di era kecerdasan buatan (AI), mendalami akar budaya, dan merayakan kebersamaan di bawah langit Bromo. Selama tiga hari yang intens, mahasiswa diajak untuk “mencuri ilmu” dari para pakar animasi hingga menyegarkan mata dengan lanskap alam yang spektakuler.

Hari 1: Menemukan Niche dan Strategi Global di Mocca Studio

Kunjungan pertama kami mendarat di Mocca Studio, sebuah rumah produksi animasi yang telah malang melintang di pasar internasional. Disambut hangat oleh Pak Irwanto selaku CEO, mahasiswa langsung disuguhi materi seminar yang membakar semangat. Pak Irwan menceritakan kisah inspiratif tentang bagaimana Mocca Studio dirintis oleh tiga orang dengan modal ketekunan, sebuah pesan yang sangat relevan bagi mahasiswa yang sedang atau akan menjalani masa magang.

Salah satu poin penting yang ditekankan adalah pentingnya memiliki “Niche” atau spesialisasi. Di dunia desain yang sangat kompetitif, menjadi generalist mungkin baik, namun memiliki keahlian spesifik—seperti concept design, property design, atau set design—akan membuat portofolio Anda lebih menonjol. Meskipun AI mulai merambah berbagai lini, Pak Irwan meyakinkan bahwa “rasa” manusia dalam membuat desain karakter tetap tidak tergantikan oleh algoritma manapun.

Tak hanya soal teknis, mahasiswa juga belajar strategi “soft-selling” di kancah global. Mocca Studio sukses mendapatkan klien luar negeri bukan hanya karena teknis yang mumpuni, tetapi melalui pendekatan psikologis di LinkedIn. Membangun relasi melalui obrolan kekeluargaan ternyata jauh lebih efektif dibandingkan sekadar berjualan jasa secara kaku. Pelajaran berharga ini membuka mata mahasiswa DKVMSD bahwa menjadi desainer hebat juga berarti harus menjadi komunikator yang handal.

Masa Depan Animasi: Apa yang Tersisa untuk Manusia?

Diskusi di Mocca Studio semakin menarik saat membahas tentang posisi AI dalam pipa produksi animasi tahun 2026. Pak Irwan menjelaskan secara gamblang bagian mana yang mulai “tenggelam” dan mana yang masih menjadi “Blue Ocean” atau lahan basah bagi tenaga manusia. Misalnya, storyboarding dan 3D modelling dasar memang mulai bisa digantikan AI, namun proses rigging (terutama untuk Unreal Engine), 3D grooming artist, dan pembuatan efek-efek kompleks masih murni membutuhkan sentuhan manual manusia.

Hal ini menjadi sinyal bagi mahasiswa ASRDMSD untuk mulai membidik keahlian di bidang lighting, effect, atau compositing yang persaingannya masih belum sesak. Di sisi lain, dunia film musikal dan animasi dengan penataan audio efek yang detail juga menjadi peluang besar. Integrasi antara teknologi AI, kemampuan manual manusia, dan pemahaman teknologi terbaru adalah kunci untuk bertahan di industri masa depan.

Hari 2: Reshaping atau Wasalam bersama Hompimpa Animwork

Memasuki hari kedua, tensi diskusi industri semakin meningkat saat kami mengunjungi Hompimpa Animwork. Di sini, mahasiswa diperkenalkan pada realitas “AI-verse” yang cukup mengejutkan. Pihak Hompimpa memaparkan betapa signifikannya efisiensi yang ditawarkan AI. Sebagai gambaran, sebuah proyek yang dulunya membutuhkan 80 orang secara konvensional, kini bisa diselesaikan hanya dengan 8 orang melalui bantuan AI dengan biaya produksi yang jauh lebih efisien.

CEO Hompimpa menekankan bahwa industri saat ini hanya punya dua pilihan: Reshaping (berubah bentuk/beradaptasi) atau “Wasalam” (gulung tikar). Hompimpa sendiri saat ini aktif melakukan riset dan pengembangan (RnD) serta mencari “AI Engineer” untuk memperkuat lini produksi mereka. Kolaborasi dengan Skak Studio juga menjadi bukti bahwa sinergi antar-studio sangat diperlukan untuk menghadapi gempuran perubahan teknologi yang begitu masif.

Mahasiswa diajak memahami bahwa peran AI Director Lead tetap membutuhkan dasar desain konvensional yang kuat. Seseorang tidak bisa menjadi pengarah AI yang baik jika ia tidak paham dasar-dasar ilustrasi atau komposisi secara manual. Transformasi ini memang menantang, namun bagi mereka yang siap belajar—seperti melihat tren di Jakarta di mana pelatihan pipeline AI sudah mulai menjamur—masa depan industri kreatif tetaplah cerah dan penuh inovasi.

Jejak Sejarah di Museum Singhasari: Kembali ke Akar

Setelah otak dipenuhi dengan diskusi teknologi masa depan, agenda Studi Ekskursi berlanjut ke Museum Singhasari untuk menyeimbangkan perspektif. Sebagai calon desainer, memahami sejarah dan artefak budaya adalah kunci untuk menciptakan karya yang memiliki kedalaman makna. Di museum ini, para mahasiswa melihat langsung keagungan masa lalu melalui arca dan peninggalan kerajaan yang megah.

Kunjungan ini mengingatkan kita bahwa tren visual boleh berubah dari manual ke digital, lalu ke AI, namun nilai-nilai estetika dan cerita (storytelling) yang berakar dari budaya lokal tetap menjadi identitas yang tak ternilai harganya. Mahasiswa ASRDMSD tampak antusias mendokumentasikan setiap sudut museum sebagai bahan referensi visual untuk tugas-tugas kuliah di masa mendatang.

Hari 3: Menjemput Fajar dan Semangat Baru di Gunung Bromo

Perjalanan diakhiri dengan momen puncak di Gunung Bromo pada hari ketiga. Dinginnya udara dini hari dan perjuangan mendaki tanjakan seolah terbayar lunas saat semburat cahaya matahari terbit mulai menyinari kaldera Bromo yang magis. Di sini, kebersamaan antara dosen dan mahasiswa semakin erat. Tidak ada lagi sekat ruang kelas, yang ada hanyalah decak kagum atas kebesaran Tuhan yang menciptakan pemandangan seindah ini.

Berdiri di hamparan pasir berskala luas, mahasiswa diajak untuk melakukan refleksi. Jika dua hari sebelumnya kita belajar tentang kecepatan teknologi di Mocca dan Hompimpa, di Bromo kita belajar tentang kesabaran dan keindahan proses. Pengalaman fisik ini diharapkan mampu menyegarkan kembali pikiran kreatif mahasiswa sebelum kembali ke rutinitas perkuliahan di Yogyakarta.

Studi Ekskursi tahun 2026 ini bukan sekadar perjalanan geografis dari Jogja ke Malang, melainkan perjalanan mental bagi mahasiswa DKVMSD. Pulang dari Malang, harapannya mahasiswa tidak hanya membawa oleh-oleh apel, tetapi membawa mentalitas baru: siap beradaptasi dengan AI, berani mencari spesialisasi, dan tetap bangga pada akar budaya nusantara. Sampai jumpa di perjalanan eksplorasi berikutnya!

No Comments

Post a Comment